Rabu, 07 Oktober 2009

Geliat Kader di Majelis

Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah adalah suatu aktifitas yang sangat mungkin sekali bisa dilakukan untuk mencetak kader Muhammadiyah yang handal. Seperti halnya yang dilakukan oleh kader Angkatan Muda Muhammadiyah Gombong yang tergabung dalam Majelis Ahmad Dahlan (MAD). Mereka memiliki aktifitas gerakan rutin seperti, aktifitas mingguan yaitu Kajian Kitab Riyadhus Shalaikhin setiap hari Jum’at dan Kajian Kitab Fathul Majid setiap hari Sabtu. Majelis yang di pelopori oleh Ustadz Mundir Hasan S.Pd ini juga memiliki kegiatan yang bernama Muhibbah yaitu kunjungan ke tokoh Ulama dan ke tempat tertentu. Kunjungan yang telah dilakukan adalah seperti ke Pondok pesantren Darrut Tauhid di Bandung, melakukan perjalanan dari Karangbolong sampai ke Ayah dan menurut rencana mereka akan melakukan perjalanan Muhibbah dari Gombong sampai ke pantai Suwuk.Tujuan dari kegiatan ini adalah kunjungan/silaturakhim dari masjid ke masjid dengan bertemu jama’ah masjid sehingga terjalin Ukhuwah Islamiah.
Geliat Kader di Majelis
AHMAD DAHLAN Aktivitas gerakan ini ternyata telah dipelopori sejak 2 tahun yang lalu dan telah memiliki jamaah tetap sekitar 20 orang dan jama’ah tidak tetap 50 an orang. Pada bulan Ramadhan 1430 H ini mereka dengan giatnya melakukan gerakan I’tikaf di masjid khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Di dalam kegiatan I’tikaf ini disamping memperbanyak membaca Al qur’an mereka juga melakukan kajian terhadap idiologi Muhammadiyah seperti Muqodimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, kepribadian Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah dan PHIWM.
Ketika diwawancarai oleh redaksi BT, apakah tujuan atau motifasi didirikannya Majelis Ahmad Dahlan ini, Ustadz Mundir yang juga seorang Sekretaris PCM gombong ini mengatakan bahwa tujuan utama dari jama’ah ini adalah untuk meningkatkan kewalitas Ibadah Mahdhah masing-masing jama’ah sehingga nanti diharapkan bias mewujudkan insan kamil yaitu seorang Mukmin, Muslim, Muttaqin dan Muhsin. Mereka mengharapkan juga agar supaya para kader Muhammadiyah di mana saja berada untuk juga turut serta melakukan kegiatan yang sama di daerahnya masing-masing. Karena menurut mereka inilah cara efektif untuk dapat mencetak kader Muhammadiyah yang handal, khususnya menumbuhkan ruh semangat beragama dan bermuhammadiyah.

Membangun Ruh Gerakan

S
uatu ketika KH. Muhammad Syoedja’ diberi tugas untuk melayani dan memimpin jama’ah haji ke Makkah. Sebelum KH. Muhammad Syoedja’ berangkat, terlebih dahulu KHA. Dahlan menyampaikan wasiat yang ditujukan kepada keponakannya yaitu KH. Baqir. Pesan beliau yang dikutipkan dari buku ”Catatan KH. Muhammad Syoedja’ adalah sebagai berikut :
1. Baqir disuruh pulang ke Jawa, ada apa dia ada di Makkah. Makkah sudah banyak ulama yang sama mengajar, bahkan Makkah sumber ulama dari segala bangsa yang mengajar, baik di Masjidil Haram, di rumah-rumah dan di Rubat-rubat dan sumber murid-murid dari segala bangsa yang sama belajar.
2. Makah satu negeri yang mulia yang diliputi tanah Haram, Tanah Suci, yang tidak masuk seorang di luar Islam di dalamnya, sehingga penduduk Makkah seluruhnya kaum Muslimin dan Muslimat yang tidak akan membutuhkan pelajaran agama Islam daripada Baqir.
3. Baqir mesti pulang, Baqir mesti pulang, Baqir mesti pulang ke tanah Jawa. Kaum Muslimin di tanah Jawa baik Muslimin maupun Muslimatnya dari segala lapisan karena dengan lancarnya para Mubaligh maupun para Mubalighat, maka sama sadarlah mereka itu dan berduyun-duyun sama mengunjungi pengajian-pengajian di tiap-tiap waktu dan tempat yang telah ditentukan. Tetapi sayang sekali bagi mereka golongan cerdik pandai yang tidak berkinjung di tempat tersebut karena tidak bersesuaian dengan hari liburnya. Oleh karena itu besar harapanku Baqir harus pulang ke Jawa. Walaupun dengan cara yang bagaimana.
Demikianlah amanat KHA. Dahlan kepada keponakannya yang berada di Makkah. Beliau berharap ada yang menggantikan beliau untuk mengemban dakwah dan menjalankan roda organisasi Muhammadiyah. Tetapi apa yang terjadi,?.... ternyata semua itu tidak sesuai dengan yang KHA. Dahlan impikan. KH. Baqir dengan berbagai macam alasan menolak keinginan pamannya yang sudah mulai sakit-sakitan. Yang membutuhkan pengganti beliau dalam mencerdaskan umat. Yang semestinya diketahui oleh orang yang berilmu, apalagi dia telah bersekolah tinggi. KH. Baqir memiliki alasan kalau dia nanti pulang ke Jawa mau kerja apa, kalau nanti dia pulang ke Jawa mau bertempat tinggal dimana, kalau nanti pulang ke Jawa dan seterusnya hanya untuk menyatakan bahwa dia tidak berkenan pulang ke Jawa.
Begitu bedanya KH. Baqir dengan murid KHA. Dahlan yang setiap waktu bersama beliau. Menimba ilmu kepada beliau, mendengarkan dan melihat cara hidup beliau secara langsung. Tidak ada yang mereka dapati dari cara hidup beliau melainkan cara hidup yang lahir dari hati yang ikhlas mencari ridlo Allah SWT. Mewakafkan hidupnya untuk Islam dan Muslimin tanpa rasa lelah.
Kepribadian dan kecerdasan spiritual KHA. Dahlan itulah yang kemudian ditiru oleh para muridnya diantaranya KH. Muhammad Syoedja’, Haji Fakhrudin, Ki Bagus Hadi Kusuma, Haji Mohamad Zain, Haji Mohamad Mokhtar, KHA. Badawi, KHR. Hajid dan lain sebagainya. KH. Muhammad Syoedja’ adalah murid dan kader langsung KHA. Dahlan. Jika KHA. Dahlan adalah peletak dasar aktifitas Amal Usaha sosial Muhammadiyah maka KH. Muhammad Syoedja’ adalah perumus sekaligus penafsirnya dalam realitas gerakan. Beliau adalah Ketua Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang pertama, salah satu perintis Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, pendiri rumah miskin, rumah anak yatim, dan pelopor Persatuan Djama’ah Hadji Indonesia (PDHI). Begitupun murid-murid KHA. Dahlan yang lainnya, mereka menjadi orang-orang yang tangguh dalam memperjuangkan agama Islam. Mereka menjadi orang-orang yang cerdas dalam berorganisasi dan juga dalam menguasai ruh Muhammadiyah.
Jika kita merujuk kepada para tokoh tersebut di atas maka mereka adalah contoh bentuk ideal dari kader Muhammadiyah. Adalah mereka yang memiliki ruh Islam yang kuat, memiliki kapasitas sebagai seorang organisatoris ulung. Yaitu mereka yang mempunyai akidah lurus, taat beribadah, memiliki pengetahuan yang dalam tentang Islam, dan menghayati visi dan misi Muhammadiyah serta menggerakkan Muhammadiyah dengan senang hati. Akidah yang kuat tergambar oleh jawaban KH. Muhammad Syoedja’ ketika diinterogasi oleh seorang tokoh di Makkah yang sedang menyelidiki Muhammadiyah. Tokoh tersebut adalah KH. Abdul Muhid. Beliau bertanya pendapat Muhammadiyah tentang orang yang berziarah kubur. Beliau KH. Muhammad Syoedja’ menjawab : ”Muhammadiyah tidak menganjurkan kepada kaum Muslimin pada umumnya dan anggota Muhammadiyah pada khususnya supaya sama berziarah kubur walaupun ke kuburan keluarganya sendiri, malahan merintangi ziarah kuburnya orang sholeh. Karena akibatnya ziarah-ziarah itu lantas sama mengajukan permohonan kepada yang ada di dalam kubur, doa restu bahagia, senang, ayem, tentrem dan tenang. Bahkan kaum muslimin golongan santri tidak hanya demikian saja, melainkan ditambah dengan bacaan tahlil yang dzikirnya sampai beribu-ribu kali di muka kubur, sehingga merasa puas yang dimaksud dan dituju”. Kemudian KH. Muhammad Syoedja’ mengutip hadits Nabi SAW : Janganlah jadikan rumahmu sebagai kuburan dan janganlah kamu jadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Bersholawatlah kamu sekalian atasku. Sesungguhnya sholawatmu akan sampai kepadaku dimanapun kamu berada. (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan). Dari jawaban itulah kemudian Muhammadiyah dicap sebagai Wahabi..
Terlepas dari tuduhan tersebut yang jelas Rosululloh SAW melarang keras seseorang mengagung-agungkan kuburan. Karena hal itulah yang telah banyak menyesatkan akidah orang-orang pada jaman dahulu. Sehingga Muhammadiyah memiliki gerakan yang terkenal dengan istilah memberantas Syirik dan TBC (Tahayul Bid’ah Churafat). Gerakan yang demikian itu sudah selayaknya untuk dipertahankan oleh orang-orang yang mengaku para penerus perjuangan Muhammadiyah. Karena perbuatan itu akan selalu ada kapanpun dan dimanapun. Termasuk dalam era yang canggih seperti sekarang ini dan era yang lebih canggih lagi kelak.
Untuk melahirkan seorang organisatoris yang handal, Muhammadiyah telah menyiapkannya sejak dini pengkaderannya secara sistematis. Yaitu dengan didirikannya Organisasi Otonom (ORTOM) sebagai wadah bagi mereka para calon penerus pimpinan Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah organisasi yang sangat ideal dalam sistem pengkaderannya karena memiliki jenjang pengkaderan seperti IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) untuk para pelajar, IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) untuk para mahasiswa, Pemuda Muhammadiyah untuk para pemuda, NA (Nasyiatul ’Aisyiyah) untuk para pemudi, Kepanduan Hizbul Wathan (HW) untuk orang-orang yang suka dengan petualangan, dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah bagi orang yang suka dengan beladiri. Di Kabupaten Kebumen semua ortom tersebut ada pengurus dan ada kegiatannya. Masing-masing ortom memiliki sistem pengkaderan formal yang lengkap dengan kurikulumnya. Seperti misalnya IPM dengan Taruna Melati, Melati Tunas bagi Pemuda Muhammadiyah, Jaya melati bagi Kepanduan HW, Darul Arqam untuk IMM, dan sebagainya yang secara teoretis sudah sangat ideal. Tapi anehnya kendala terbesar yang dialami adalah dalam urusan pengkaderannya. Ortom yang diharapkan mampu menjadi kawah ”candradimuka” Muhammadiyah dalam mempelajari visi misi serta gerak dan perjuangan Muhammadiyah ini ternyata tidak banyak peminatnya. Sebagai contoh pengalaman penulis ketika menjadi ketua PC IRM (sekarang berubah Ikatan Pelajar) Gombong periode 2005-2007, ternyata periode tersebut menjadi pimpinan yang terakhir setelah sebelumnya mati dan berhasil kami hidupkan (atas pertolongan Alloh). Pimpinan Cabang mati karena tidak ada lagi yang mau menjadi pengurus. Ketika Muscab, lebih banyak panitia daripada peserta Muscab, sementara pengurus yang lama akan segera meninggalkan Gombong untukmelanjutkan studinya di tingkatan yang lebih tinggi. Berbagai upaya telah ditempuh, baik yang berbentuk formal seperti Taruna Melati maupun berbentuk informal seperti pengajian rutin. Ternyata setelah dipikir hal itu terjadi karena kapasitas SDM-nya kurang mumpuni di bidangnya. Jangankan untuk mengurusi satu wilayah kecamatan, untuk menggerakkan di tingkat sekolah saja dipandang masih terlalu berat. Oleh karena itu perlu adanya kesinambungan antara ortom satu dengan yang lainnya. Sebagaimana ketika IPM pertama kali didirikan, pengkaderannya diserahkan kepada pemuda Muhammadiyah. Karena jika melihat SDM IPM yang notabene para pelajar, belum mampu melakukan sistem kaderisasi formal sebagaimana tercantum dalam kaidah. Jika dibandingkan dengan IPM di lain daerah sebut saja misalnya Banyumas atau Cilacap, di sana yang menjadi pengurus IPM rata-rata anak kuliahan. Sehingga wajar jika di sana lebih progresif dalam pengkaderan dan kegiatannya.
Meski demikian menurut hemat penulis secara umum sistem pengkaderan pada ortom tersebut yang selama ini berjalan baru berupa pembangunan jasad Muhammadiyah, belum pada pembangunan ruh Muhammadiyah. Oleh karena itu sering didapati seorang yang pandai berorganisasi di dalam muhammadiyah, kurang mengetahui akidah yang benar, tata cara ibadah yang sesuai tuntunan sunnah, tidak mengetahui banyak tentang Hadits sehingga ketika mendapati orang yang menjalankan ibadah sesuai dengan hadits yang shahih akan melihatnya sebagai orang asing. Padahal undang-undang tertinggi Muhammadiyah adalah Al Quran disusul kemudian Hadits yang shahih. Berkaca dari hal itu maka sudah selayaknya ada diantara pengurus Muhammadiyah di semua tingkatan ada seorang yang mampu menjadi figur. Yang memiliki kapasitas keilmuan agama, dan juga memiliki kemampuan menjalankan organisasi. Mampu menjadi tauladan bagi orang di sekitarnya, baik dari segi akhlaknya, ibadahnya, akidahnya, keilmuannya, keikhlasannya, progresifitasnya dalam gerakan, dan kecerdasannya dalam berorganisasi.
Walaupun nampaknya untuk sekarang ini sulit menemukan sosok yang dimaksud. tetapi paling tidak seharusnya setiap pimpinan Muhammadiyah bisa berusaha menjadi neo Ahmad Dahlan. Yang senantiasa membimbing para kader muda dalam menanamkan ruh Muhammadiyah secara intensif. Sebagaimana para rosul terdahulu yang senantiasa memiliki sahabat dalam perjuangan mereka, dan pada akhirnya sahabat-sahabat tersebut menjadi kader-kader tangguh dalam barisan dakwahnya. Sebut saja Nabi Isa yang memiliki para Khawariyyun, Ar Rosul SAW yang memiliki para sahabat yang sangat banyak jumlahnya dan tinggi kualitas imannya, baik dari kalangan Muhajirin maupun dari kalangan Ansor, begitupun KHA. Dahlan yang memiliki murid sekaligus teman dalam perjuangan beliau sebagaimana disebutkan di atas. Hematnya, disamping sistem pengkaderan formal juga tidak kalah penting pengkaderan nonformal.
Sekarang ini banyak orang yang lebih sering mengenal Muhammadiyah melalui Amal Usaha yang mendatangkan laba seperti RS PKU Muhammadiyah dan Sekolah Muhammadiyah, sehingga banyak yang mengidentikan Muhammadiyah sebagai perusahaan dibandingkan sebagai organisasi Dakwah. Idealnya Amal Usaha yang demikian merupakan peluang yang sangat besar dalam menjaring para kader Dakwah Muhammadiyah. Dengan catatan ada orang yang ikhlas membimbing para karyawan maupun guru dan dosen di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah. Siang mereka bekerja di AUM, ketika pulang mereka berdakwah di semua lini kehidupan demi tegaknya agama Islam. Sehingga tidak terjadi seorang guru atau karyawan Muhammadiyah bekerja hanya menantikan gaji yang tidak seberapa. Padahal tanpa dinanti, sudah menjadi konsekuensi logis kalau dia bekerja pasti akan mendapatkan upahnya.
Suatu ketika, pada tahun 1922 sekolah Muhammadiyah harus menambah kelas karena siswanya terus bertambah. Dengan demikian, sudah barang tentu belanja sekolahpun bertambah banyak. Sudah selama setahun KHA. Dahlan melihat nasib para guru yang tidak digaji. KHA. Dahlan tidak sampai hati jika harus menangguhkan pembayaran gaji para guru tersebut untuk beberapa bulan lagi. Maka beliau mengundang teman-teman pengurus Muhammadiyah untuk mendaftar barang alat rumah KHA. Dahlan mulai dari yang kecil-kecil seperti meja, kursi, kaca dinding, jam dinding dan lain-lain. Dan juga pakaian beliau seperti sendal, sarung, baju, jas, gamis, dan sorban. Yang disisakan hanyalah satu sorban, dua sarung, satu jas, dan dua baju dalam. KHA. Dahlan bertelanjang diri dan bertelanjang rumah sampai bulat. Barang-barang tersebut beliau lelang untuk mendapatkan uang sebanyak 300 – 400 gulden untuk membayar utang gaji para guru. KHA. Dahlan hanya tersenyum dan ikhlas menjalaninya dan beliau hanya minta 60 gulden untuk membayar utang yang lain. Dan dari hasil penjualan barang-barang tersebut yang awalnya diperkirakan akan laku sebanyak 400-500 gulden, ternyata di luar dugaan. Karena ternyata hasil penjualan tersebut mencapai 4.000 gulden lebih sedikit. Namun demikian beliau tetap hanya mengambil 60 gulden saja. Demikianlah beliau mengorbankan smuanya demi tegaknya Islam yang beliau salurkan melalui organisasi yang tercinta bernama Muhammadiyah. Dengan keyakinan yang dalam akan janji Allah SWT :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. Muhammad 47 : 8)

EDISI KE 4 : MENEGUHKAN KADER UMAT

A. Sajian Utama
B. Syariat
C. Tafsir
D. Persyarikatan
E. Psikologi
F. Tarikh
G. Refleksi
H. Pendidikan

SEKOLAH KADER “Adakah

Sudah diakui sejak awal-awal berdirinya Muhammadiyah, bahwa pendidikan di Muhammadiyah dalam hal ini sekolah-sekolah formalnya didirikan bertujuan untuk mencetak kader-kader Muhammadiyah yang berkualitas baik dan segi akademik maupun keagamaannya. Sehingga diharapkan mampu menjadi generasi penerus gerakan Muhammadiyah yang akan datang. Tujuan tersebut mungkin awalnya dapat dikatakan berhasil karena sudah banyak kader-kader Muhammadiyah yang dicetak lewat sekolah - sekolah Muhammadiyah. Tapi seiring berjalannya dengan waktu khususnya di kabupaten Kebumen dan mungkin di semua tempat pada umumnya kemampuan sekolah-sekolah Muhammadiyah dalam mencetak kader terjadi penurunan baik segi kuantitas maupun kualitas.
Hal ini dapat dilihat dari berapa tiap tahunnya lulusan Sekolah-sekolah Muhammadiyah dan berapa persen yang kemudian aktif di Muhammadiyah maupun ortom-ortomnya. Bahkan berapa persenkah yang cukup sekedar menjadi simpatisan Muhammadiyah. Hal ini diperparah dengan tingkat kepercayaan warga Muhammadiyah sendiri yang rendah terhadap sekolah-sekolah Muhammadiyah sehingga lebih memilih menyekolahkan putra-putrinya di sekolah negeri. Bila ditanyakan pada mereka alasannya, karena Sekolah - sekolah Muhammadiyah kurang bermutu, khususnya yang berada di pedesaan.
Melihat dari fenomena tersebut maka sudah perlu dikaji ulang tentang system pendidikan di Muhammadiyah sehingga tujuan awal untuk mencetak kader-kader berkualitas dapat dicapai. Oleh karena itu langkah awal untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat pada sekolah Muhammadiyah adalah bagaimana warga Muhammadiyah membuat sekolah itu menjadi bermutu bukan malah ditinggalkan, lari ke sekolah lain.
Majelis Dikdasmen yang mempunyai peran disini dituntut lebih aktif untuk membuat sebuah kebijakan yang dapat dipakai dan diterapkan oleh semua sekolah Muhammadiyah Bukan hanya sekedar menyalahkan menajemen/Pengelola Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah dan guru. Kebijakan umum adalah sangat perlu di buat oleh Majelis, adapun kebijakan lokal harus tetap dihormati karena itu merupakan potensi di setiap sekolah. Kedua-duanya yaitu kebijakan umum yang kuat dari Pimpinan Muhammadiyah dan kebijakan lokal hasil budaya yang ada di sekolah haruslah disinkronkan dan dipadukan. Sekiranya kebijakan Umum harus mengambil peran lebih utama maka dengan sangat terpaksa kebijakan lokal sekolah haruslah dikorbankan, demikian juga sebaliknya, namum tetap kebijakan Umum harus menambil peran yang lebih karena untuk menjadi dasar hittah perjuangan di Muhammadiyah.
Peran aktif dari semua pihak, dalam hal ini adalah warga Muhammadiyah haruslah terus berjalan. Ketika semua warga mengambil perannya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing maka hal yang menjadi kendala dan hambatan dengan sendirinya akan terselesaikan. Akan tetapi disini peran dari Majelis haruslah mengambil peran yang lebih utama, mulai dari perencanaan, pemetaan, pengorganisasian, pengontrolan dan evaluasi serta pembinaan sekolah Muhammadiyah. Yang tidak kalah pentingnya pembinaan dan peneguhan Idiologi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan harus terus berjalan sebagai alat untuk mengembalikan dan meneguhkan kembali bahwa memperjuangankan Sekolah Muhammadiyah memiliki karakteristik dan corak yang tersendiri.
Yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana membentuk sekolah berkualitas tetapi tetap bisa mengakomodasi masyarakat kurang mampu. Untuk mengatasi hal yang semacam itu sekolah harus memutar strategi, dalam hal ini ulet mencari terobosan-terobosan yang jitu, seperti mengusahakan beasiswa dari pemerintah, mencarikan donator /orang tua asuh bagi siswa-siswa kurang mampu dan dengan cara subsidi silang oleh wali murid yang mampu.
Guna menjaga dan mempertahankan kualitas sekolah Muhammadiyah cara yang lain adalah dengan cara selektif dalam penerimaan peserta didik baru. Bagi sekolah-sekolah yang telah memenuhi kuota murid jangan sampai karena pendaftar melebihi kebutuhan sekolah dengan semangatya mengambil semua. Akibatnya kualitas sekolah akan dengan menurun dikarenakan tidak diimbangi oleh rasio jumlah guru dengan anak didik. Bagi sekolah Muhammadiyah yang peserta didiknya kurang dari kapasitas yang diinginkan maka disini guru harus berusaha semaksimal mungkin agar supaya peserta didik yang terbatas tetapi memiliki kemampuan yang luar biasa, tentunya kita ingat dengan kisah Laskar pelangi. Oleh karena itu disini dituntut tenaga pendidik harus memiliki keikhlasan dalam mendidik dan pantang menyerah. Majelis dalam posisi ini haruslah memposisikan lebih karena mereka para pendidik akan tetap diayomi dan diperhatikan oleh yayasan yaitu Persyarikatan Muhammadiyah.
Apabila Sekolah Muhammadiyah dapat memberikan pelajaran yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang bermutu maka kepercayaan masyarakat pada sekolah Muhammadiyah akan timbul kembali. Kemudian bagaimana siswa-siswinya dididik untuk diharapkan menjadi kader Muhammadiyah di masa yang akan datang, sehingga sekolah Muhammadiyah sebagai ujung tombak pengkaderan dapat tajam kembali ? Oleh karena itu diharapkan pada setiap pelajaran, guru haruslah berperan sebagai orang Muhammadiyah, sampaikan hal-hal yang bersangkutan dengan Muhammadiyah atau keislaman pada materi pelajaran yang mereka sampaikan kepada muridnya walaupun sedikit. Maka disitu murid kan terbiasa dengan situasi dan budaya Muhammadiyah karena untuk menambahkan jam pelaaran Kemuhammadiyahan dan Al Islam tidaklah mungkin.
Dari hal tersebut, tenaga Pendidik dan kependidikan di sekolah Muhammadiyah haruslah memiliki wawasan idiologi bermuhammadiyah walaupun sedikit. Apalagi seorang Kepala sekolah sebagai leader dari sekolah haruslah menjadi ujung tombak dari pengakaderan yang ada. Untuk menjadikan mereka para tenaga pendidik memiliki wawasan kemuhammadiyahan dan beridiologikan Muhammadiyah maka mereka haruslah melalui jenjang pengkaderan yang ada di Muhammadiyah, mulai dari Darul Arqom atau sistem pengkaderan yang lain. Sangatlah naïf apabila seorang yang bukan beridiologikan Muhammadiyah menjadi alat pengakderan di Muhammadiyah khususnya di sekolah Muhammadiyah. Jalan lain adalah bagaimana tenaga pendidik dan kependidikan terus menghidup-hidupi Muhammadiyah dengan tidak hanya memberikan pelajaran di kelas. Adalah mereka haruslah terlibat langsung dengan keorganisasian otonom yang ada di Muhammadyah. Bagi mereka yang perempuan masuklah di Aisyiyah atau NA, bagi yang laki-laki masuklah menjadi aktif di setiap kegiatan yang diselenggarakan Muhammadiyah atau bahkan menjadi pengurus Ranting atau cabang, atau bagi yang masih muda aktiflah di Pemuda Muhammadiyah. Dengan begitu mereka dengan sendirinya merasa memiliki Muhammadiyah. Kesemuanya dituntut keikhlasan dan pengorbanan. Seperti yang dipesankan oleh pendiri Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan: Kutitipkan kepadamu Muhammadiyah, Hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah. Pesan ini haruslah dicermati bukan sekedar kita pasif tetapi haruslah aktif bagaimana agar bisa hidup maka berbuatlah.red

Mencetak Kader

M
uhammadiyah sebagai organisasi kader Islam memiliki tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat yang sebenar-benarnya. Melalui Sekolah dan masjid, K.H. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah memperjuangkan munculnya kader Umat Islam yang tangguh. Demikian ungkapan ketua PDM Kebumen yang membidangi Majelis Pendidikan Kader (MPK) Kebumen. Seperti halnya yang dicontoh oleh beliau bahwa apabila sekolah benar-benar dijadikan tempat pengkaderan, maka insya Allah akan muncul kader-kader umat yang dibanggakan. Bagaimana caranya agar bisa berhasil, beliau menyampaikan yaitu : pertama; Pelajar Muhammadiyah harus memahami dan melaksanakan janjinya yang ke enam yaitu sanggup melangsungkan amal usaha Muhammadiyah. Kedua; Diharapkan lulusan Muhammadiyah bisa melanjutkan ke sekolah Muhammadiyah pada jenjang berikutnya. Ketiga; Penerimaan karyawan Amal Usaha Muhammadiyah perlu dibenahi, karyawan yang diterima haruslah selektif. Bagi yang sudah Muhammadiyah maka Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus bekerja sama dengan MPK terus memotifasi agar tetap pada semangat organisasi Muhammadiyah. Bagi yang belum haruslah dimuhammadiyahkan.
Menyoroti hal yang ketiga ini pak Maftuh menyampaikan bahwa keberlangsungan pengkaderan di Sekolah tergantung pada Kepala Sekolah. Apabila Kepala Sekolah belum menjadi Muhammadiyah maka sudah barang tentu seluruh guru dan karyawannya akan sulit menjadi Muhammadiyah. Bahkan bisa menjadi naif ketika kepala sekolah menjadikan mata pelajaran Kemuhammadiyahan hanyalah menjadi pelengkap dari kurikulum. Sehingga dengan begitu yang mengajar Kemuhammadiyahan adalah guru yang kekurangan jam mengajarnya. Padahal Seorang guru Kemuhammadiyahan semestinya menjadi figur Muhammadiyah secara teori maupun praktek.
Ditambahkan juga bahwa Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah haruslah memiliki peran yang penting guna membangun sistem yang ada di sekolah Muhammadiyah. Jangan sampai sekolah Muhammadiyah tidak harmonis dalam pergaulan baik guru dengan karyawannya dengan sekolah Muhammadiyah yang lainnya, Ada apa dengan ini ? oleh karena itu haruslah dicari benang merahnya. Apakah karena faktor ketidak fahaman mereka di Muhammadiyah atau yang lain, atau karena mereka bahkan bukan orang Muhammadiyah?
Ketika ditanya selanjutnya, apakah karyawan AUM harus melalui tahapan pengkaderan yang formal? Dijawab, bahwa ketika masuk seharusnyalah mereka di seleksi dahulu, untuk mengetahui komitmen mereka masuk menjadi karyawan di AUM. Bagi mereka yang telah masuk, kata beliau teruslah untuk digembleng, pengakderan formallah yang tepat. Atau bahkan beliau menambahkan kalau bisa sebelum masuk, mereka telah disiapkan dahulu untuk menjadi karyawan Muhammadiyah. Maka sangatlah penting kalau diadakan oleh Muhammadiyah di Perguruan Tinggi sebuah fakultas Kemuhamadiyahan guna menjadi guru kemuhamadiyahan.
Kenapa Pengkaderan di Muhammadiyah khususnya sekolah tidak menjadikan lulusan sekolah Muhammadiyah betul-betul aktif di persyarikatan Muhammadiyah ?tanya redaksi pada beliau. jawabnya; Muhammadiyah bukan menjadikan mereka menjadi organisasi Mainded, Muhammadiyah hanya menghidupkan fikir mereka. Muhammadiyah adalah organisasi terbuka sehingga mereka para lulusan Muhammadiyah ketika kembali ke masyarakat, maka mereka dengan pola fikir Muhammadiyah dapat melakukan perubahan, sekalipun bukan dalam lingkup Persyarikatan Muhammadiyah. Fenomena yang ada adalah bahwa tidak semua orang yang sekolah di Muhammadiyah aktif menjadi kader di Muhammadiyah. Akan tetapi ada kader yang tidak sekolah di Muhammadiyah malahan menjadi kader Muhammadiyah yang bagus.
Oleh karena itu, pak Maftuh menyayangkan Organisasi Otonom seperti Pemuda Muhammadiyah, NA, IPM dan lain-lain sampai saat belum bisa mencetak kader yang diinginkan oleh persyarikatan. Salah satu sebab kata beliau adalah kurangnya perhatian dari Majelis tentang Ortom. Seolah-olah ortom agak telupakan padalah merekalah yang nantinya akan menggantikan amanah estafet kepemimpinan di Muhammadiyah.
Dengan keadaan yang semacam inilah, kata beliau pengkaderan Muhammadiyah sangatlah lemah. Hal yang sama di sampaikan oleh salah satu anggota ketua PDM Kebumen, Bapak M.Zairin bahwa beliau mengeluh tentang kader Muhammadiyah yang sangat sedikit. Kita ini miskin kader, untuk mencari Imam masjid saja sangatlah kesulitan, itu yang dicontohkannya. Maka langkah yang tepat adalah bagaimana Muhammadiyah melakukan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pembibitan kader di segala bidang termasuk mubaligh dan imam Masjid. Oleh karena itu pengkaderan itu sangat pentingdan sesegera mungkin untuk dilaksanakan.
SEKOLAH KADER “Adakah?”Adapun pendapat dari ketua Aisyiyah Kebumen Ibu Koen Farichah bahwa Ada beberapa modal pengkaderan di Aisyiyah yang sudah berjalan yaitu Pertama bersifat formal dan keharusan, bagi pimpinan maupun Pimpinan AUM (amal Usaha Muhammadiyah) seperti Refresing Pimpinan, Pelatihan Mubalighah, pelatihan instruktur dan TOT (training of trainer). Kedua, bersifat alamiyah lewat keluarga yakni putra-putri aktifis Muhammadiyah/Aisyiyah menjadi pimpinan juga karena dilibatkan sejak dini. Ketiga, kader kintilan yakni AMM putri diajak serta oleh Aisyiyah hanya sekedar ikut dan mengkawal, dari situlah akhirnya bisa melanjutkan dakwah. Keempat, tanpa pengkaderan dan tanpa melihat kriteria Pimpinan sesuai(ART “aisyiyah BAB VI pasal 16) dapat pula jadi kader dan menduduki jabatan pimpinan karena persyaratan dipersingkat menjadi mau dan mampu. Kenyataan di Kebumen, mencari kader sulit sehingga di su

Selasa, 06 Oktober 2009

silahkan

mgmppaijateng.blogspot.com bisa dikunjungi

REDAKSI TAFAHUM

PENASEHAT : H.M. ABDUH HISYAM, MUL'AN ANNAFATY
PENANGGUNG JAWAB : PDPM KEBUMEN
PIMPINAN UTAMA : YUONO AJI
PIMPINAN PERUSAHAAN : WAHIDUN KUSNIANTO
PIMPINAN REDAKSI : IMAM ROMZAN F
STAF REDAKSI : YANUAR HERI, FIRMAN AMRI, MISKUN
HUMAS : SULTON NASIR, IMAM SUHENDRO, BUDI SYA'BANI
ALAMAT : Jalan Indrakila 38A kebumen 54311